SAPAAN

SELAMAT DATANG DIDUNIAKU, DUNIA PENUH MAKNA DAN HARAPAN MENUJU MIMPI YANG INDAH DAN LEBIH BAIK

Selasa, 24 November 2009

PERLUASAN AKSES PROGRAM PENDIDIKAN KESETARAAN MELALUI PEMANFAATAN RADIO KOMUNITAS DI KOTA BANDUNG

Oleh : Purnomo, S.Pd (Praktisi Lapangan Pendidikan Luar Sekolah)


1. Bagaimana pelaksanaan perluasan akses pendidikan kesetaraan melalui pemanfaatan radio komunitas dilihat dari segi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi?

a. Perencanaan “Model Pembelajaran”

Secara komprehensif menurut Wexley dan Lathan (1981), dalam Agus Dharma (1988) bahwa:

Perencanaan merupakan suatu proses yang terorganisir dan berkesinambungan dari mengidentifikasi unsur-unsur dan aspek-aspek suatu organisasi untuk penentuan keadaan sekarang dari unsur-unsur dan aspek-aspek tersebut serta interaksinya, memproyeksikan unsur-unsur dan aspek-aspek tersebut untuk periode waktu tertentu, serta perumusan dan membuat program rangkaian tindakan dan rencana untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Perencanaan adalah suatu kebijakan untuk menggali dan memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan-tujuan sosio-ekonomi atau sosiokultural tertentu. Karena itu, perencanaan merupakan fungsi awal dari keseluruhan kegiatan pengelolaan dan merupakan proses sistematis untuk pengambilan keputusan tentang apa yang akan dilaksanakan, mengapa dilaksanakan, tujuan yang ingin dicapai, waktu yang dibutuhkan, bagaimana proses pelaksanaannnya, daya dukung apa yang tersedia, serta berbagai resiko dan kemungkinan hambatan yang akan dihadapi.

Waterson (1965) dalam Djudju Sudjana (2000: 61) mengemukakan bahwa “pada hakekatnya perencanaan merupakan usaha sadar, terorganisasi, dan terus menerus dilakukan untuk memilih alternatif yang terbaik dari sejumlah alternatif tindakan guna mencapai tujuan”.

Schaffer (1970) dalam Djudju Sudjana (2000: 61) mengemukakan:

Apabila perencanaan dibicarakan, maka kegiatan ini tidak akan terlepas dari hal-hal yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan tersebut dimulai dari perumusan tujuan, kebijaksanaan, dan sasaran secara luas, yang kemudian berkembang pada tahapan penerapan tujuan dan kebijaksanaan itu dalam rencana yang lebih rinci berbentuk program-program untuk dilaksanakan.

Selanjutnya Yehezkel Dror dalam Djudju Sudjana (2000: 62) mengemukakan bahwa perencanaan adalah proses untuk mempersiapkan seperangkat keputusan tentang kegiatan-kegiatan pada masa yang akan datang dengan diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan melalui penggunaan sarana yang tersedia.

Demikian pula Friedman dalam Djudju Sudjana (2000: 62) mengemukakan bahwa perencanaan adalah proses menggabungkan pengetahuan ilmiah dan teknik ke dalam kegiatan yang diorganisasi. Dengan demikian perencanaan merupakan kegiatan awal keseluruhan proses kegiatan suatu organisasi atau lembaga. Termasuk misalnya perencanaan proses pelatihan yang akan dilaksanakan oleh suatu lembaga pendidikan.

Pada prinsipnya perencanaan memiliki fungsi: 1) untuk mengurangi adanya hambatan-hambatan serta pemborosan, sehingga semua yang tercakup di dalamnya dapat dimanfaatkan sebaik mungkin, 2) sebagai pelayanan yang berupa prosedur di dalam proses pencapaian tujuan, 3) sebagai penyeimbang daripada komponen-komponen yang terlibat di dalamnya. Perencanaan merupakan bagian awal dari manajemen. Perencanaan merupakan faktor yang sangat mendasar dan menentukan keberhasilan pencapaian tujuan pelatihan. Tanpa adanya perencanaan yang jelas dan terukur kita tidak akan mengetahui dengan pasti, apakah proses kegiatan yang dilaksanakan berhasil atau tidak. Perencanaan yang menyeluruh mengandung efektivitas dan efisiensi sistem dan proses, yang mencerminkan komponen-komponen yang secara sistematis saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Komponen-komponen tersebut meliputi : 1) alasan mengapa ”model” ini dilaksanakan, 2) tujuan ”model” yang akan dicapai, 3) tindakan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan ”model” tersebut, 4) daya dukung yang tersedia, baik manusia maupun non-manusia, 5) bagaimana langkah/proses ”model” tersebut dilaksanakan, dan 6) waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan ”model” tersebut.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perencanaan model pembelajaran yang akan dikembangkan ini merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Disebut sistematis karena perencanaan itu digunakan dengan menggunakan prinsip-prinsip tertentu. Prinsip-prinsip tersebut mencakup proses pengambilan keputusan, penggunaan pengetahuan dan teknik secara ilmiah, serta tindakan atau kegiatan yang terorganisasi.

Dalam perencanaan program ini, diklasifikasikan beberapa jenis persiapan dalam sistem pembelajaran jarak jauh berbasis komunitas ini, yaitu :

1. Persiapan fisik, berupaya meyakinkan iklim siaran yang kondusif baik secara teknologis maupun setting waktunya, termasuk kesiapan bahan pembelajaran yang dibutuhkan, perizinan, sarana prasarana dan penguatan organisasi.

2. Identifikasi dan rekruitmen warga belajar, melalui beberapa teknis diantaranya:

  1. Menggunakan data base warga belajar yang telah mengikuti pendidikan kesetaraan
  2. Membuka prioritas kebutuhan warga belajar melalui sosialisasi dengan memanfaatkan radio komunitas, brosur, leflet dan media lainnya yang bersifat pemberitahuan.
  3. Mengumpulkan data dan informasi tentang kebutuhan warga belajar secara umum, berkaitan dengan kegiatan-kegiatan keterampilan.

3. Identifikasi dan Rekruitmen Tutor

Pada langkah awal identifikasi tutor, sebelumnya dilakukan seleksi melalui wawancara untuk meyakinkan kesediannya sebagai tutor, sesuai dengan bidang masing-masing, bersedia untuk membelajarkan peserta didiknya selain kegiatan pembelajaran yang klaksikal, juga pembelajaran jarak jauh.

Pada tahap perencanaan program ini, perlu dibentuk suatu pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan warga belajarnya. Dengan mencermati metode-metode yang digunakan dalam identifikasi kebutuhan yang dikemukakan oleh Agus Dharma yaitu: wawancara, pengamatan, penilaian dokumen dan curah pendapat, nampaknya metode tersebut yang digunakan sangatlah tepat.

4. Pemotivasian, berupaya menyakinkan bahwa warga belajar sudah memiliki kesiapan untuk belajar, termasuk menyiapkan pikirannya untuk menerima materi yang disampaikan melalui radio.

5. Orentasi/Pelatihan Tutor Kesetaraan dan Pengelola Radio

Memberikan orientasi bagi tutor pendidikan kesetaraan. Orientasi sebagai salah satu bentuk persiapan dan kesanggupan untuk melaksanakan program kerja, serta memberikan treatment berupa informasi-informasi penting berkaitan dengan strategi dan metode pembelajaran yang akan digunakan dan penggunaan secara teknis pengelolaan radio.

Orientasi ini dikemas berdasarkan kebutuhan pembelajaran, peserta didik yang dijadikan sasaran dan pemanfaatan radio sebagai medi pembelajaran pendukung. Namun lebih dari itu identifikasi kebutuhan pelatihan dapat memberikan petunjuk bagi pengelola pelatihan tentang jenis-jenis kompetensi apa yang diperlukan bagi peserta pelatihan dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi dalam melakukan suatu pekerjaan (Agus Dharma, 1988).

6. Penyiapan dan perencanaan bahan ajar sesuai dengan bidang studi masing-masing pelajaran, dikondisikan dengan kebutuhan peserta didik.

7. Membuat pedoman/panduan penggunaan alat/media pembelajaran (radio), panduan tutor, panduan warga belajar;

8. Menyusun dan menyempurnakan jadwal pelaksanaan penyusunan dan pelaksanaan “model”;

9. Merumuskan pelaksanaan pembelajaran dan tahap evaluasi serta pelaporan akhir.

10. Membuat rincian anggaran biaya pelaksanaan ”Model”

Disamping hal-hal tersebut di atas, dalam perencanaan ”model”, penyelenggara membuat kelengkapan-kelengkapan lain seperti: daftar nama peserta, format evaluasi pre test dan post test, format evaluasi terhadap intruktur dan warga belajar, biodata peserta dan instruktur, daftar tanda terima ATK peserta, menyusun acara, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan pelaksanaan ”model”.

Dalam mempersiapkan sarana/prasarana yang dipergunakan dalam “model” ini, didasarkan pada data atau informasi yang diperoleh dari penyelenggara, dapat diklasifikasikan dalam dua bagian, yaitu pertama sarana yang memungkinkan peserta dapat melakukan kegiatan belajar, yang meliputi: ruang belajar, ruang praktek/laboratorium; kedua sarana/prasarana yang memungkinkan dapat mendukung penyelenggaraan “model” (pembelajaran jarak jauh), yang meliputi: informasi saluran radio yang dipergunakan, jadwal pembelajaran jarak jauh, penyiapan kartu monitoring pembelajaran (yang diisi oleh warga belajar), tugas/portofolio yang akan dipelajari, modul pembelajaran jarak jauh sesuai dengan mata pelajaran/bidang studi .

b. Pelaksanaan “Model Pembelajaran”

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan “model” pembelajaran ini, diantaranya :

1) Penciptaan Iklim Belajar

Proses belajar terjadi apabila situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi peserta didik sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi (Gagne dalam Ngalim Purwanto, 1996; 84). Selanjutnya dikemukakan bahwa “belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian” (Whiterington dalam Ngalim Purwanto, 1996; 84).

Iklim belajar dalam “model” ini dibentuk penciptaan susunan yang kondusif bagi tumbuhnya iklim belajar yang menyenangkan, saling kenal, saling percaya dan saling menerima, melalui kegiatan penguatan motivasi, bertukar pengalaman, diskusi, permainan-permainan, kuis dan kegiatan yang sejenis.

2) Pencapaian Tujuan Pembelajaran.

Kegiatan pembelajaran yang diikuti peserta diarahkan pada upaya pencapaian tujuan yang telah ditetapkan untuk setiap materi pembelajaran, yang dikemas dalam kurikulum pembelajaran jarak jauh. Dalam pencapaian tujuan pembelajaran ini, didiskusikan terlebih dahulu dengan tutor, pamong dan tim akademisi.

3) Penerapan dari Metode Pembelajaran

Pemilihan dan penerapan dari metoda pembelajaran yang digunakan dalam “model’ pembelajaran, untuk setiap kegiatan pembelajarannya, dengan mengacu kepada tujuan yang ingin dicapai dan materi yang akan diberikan. Penerapan metode pembelajaran yang dipergunakan, diantaranya :

a) Metode pembelajaran berdasarkan pemberian informasi:

(1) Tanya jawab

b) Metode pemecahan masalah :

(1) Diskusi kecil

(2) Brainstroming

c) Metode pembelajaran Berdasarkan penugasan :

(1) Penugasan

(2) Metode Kelompok Kerja (Workshop)

4) Pemilihan dan Penerapan Prinsip-Prinsip Belajar

Prinsip-prinsip pembelajaran yang digunakan dalam “model” pembelajaran ini, menggunakan pendekatan andragogi/pendagogi, mengingat peserta tergolong dari berbagai kriteria usia dan golongan, sehingga peserta diberikan kesempatan untuk berperan aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran.

Pada bagian ini, tutor ataupun narator membacakan skrip yang sudah disusun berdasarkan pada penugasan, diskusi ataupun kuis interaktif dan acara-acara lainnya yang disusun berdasarkan pada bidang studi dan kurikulum pembelajaran jarak jauh yang sudah dibuat. Kemasan acara bersifat enjoyable, fun and educatif.

c. Evaluasi “Model” Pembelajaran

Evaluasi “model” Pembelajaran dilakukan pada saat sebelum pelaksanaan “model”, pada saat dilaksanakan pembelajaran yaitu penilaian proses dan penilaian akhir pelaksanaan atau penilaian hasil pembelajaran, untuk lebih jelasnya sebagai berikut :

1) Penilaian Sebelum Pelaksanaan “Model”

Penilaian sebelum pelaksanaan “model” yang dilaksanakan dalam bentuk penilaian terhadap kebutuhan belajar, kelengkapan-kelengkapan pembelajaran dan pre-test. Penilaian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi kemampuan-kemampuan yang diperlukan, kemampuan awal peserta, dan kelengkapan-kelengkapan yang diperlukan dalam mendukung penyelenggaraan “model”.

Adapun hasil yang diperoleh dari pre test yang dilakukan oleh panitia penyelenggara terhadap peserta. Hasil penilaian pada tahap ini dijadikan bahan masukan bagi panitia penyelenggara dalam melakukan perbaikan dan pengembangan terhadap komponen-komponen yang mendukung terhadap penyelenggaraan “model” ini.

2) Penilaian Pada Saat Pelaksanaan “Model”

Pada saat pelaksanaan kegiatan dan proses pembelajaran dilakukan penilaian terhadap peserta. Penilaian terhadap peserta dilakukan oleh penyelenggara melalui Kartu Monitoring (KM) yang bertujuan untuk mengetahui tingkat penguasaan dari setiap peserta terhadap materi-materi yang telah diberikan.

Penilaian terhadap peserta yang dilakukan oleh tutor pada saat sebelum dan akhir dari proses pembelajaran. Penilaian tersebut dilakukan secara lisan dan tulisan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan awal yang berhubungan dengan materi yang akan diberikan dan untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta terhadap materi yang telah diberikan. Cara penilaian lain yang dilakukan oleh tutor yaitu melalui tes formatif yang diberikan kepada warga belajar, dengan paket – paket materi pembelajaran untuk dikerjakan melalui pengawasan tutor.

3) Penilaian Akhir Pelaksanaan ”Model”

Pada akhir pelaksanaan pembelajaran, dilaksanakan penilaian akhir (sumatif) oleh penyelenggara dan tutor. Penilaian yang dilakukan oleh penyelenggara dan tutor yaitu penilaian untuk mengetahui kemampuan akhir yang dimiliki oleh setiap peserta/warga belajar didalam menguasai materi-materi yang telah diberikan.

2. Bagaimana langkah operasional perluasan akses pendidikan kesetaraan melalui pemanfaatan radio komunitas dipandang dari segi metodelogi pembelajaran?

a. Peran Tutor dalam Proses Pembelajaran

Pada tahapan pembelajaran disusun dari hal-hal yang mudah, sederhana dan dekat dengan kondisi peserta belajar menuju pembahasan yang kompleks, umum dan memiliki cakupan yang luas. Hal ini agar mempermudah proses pembelajaran dan ketercapaian kemampuan/kompetensi warga belajar kesetaraan..

Peran tutor dalam “model” ini, yaitu sebagai berikut :

1) Mengkondisikan kegiatan belajar Warga Belajar

Tutor mampu mengkondisikan warga belajar melalui interaksi yang enjoyable dan educatif disaat ON AIR. Tutor memberikan perhatiannya melalui komunikasi yang baik, seperti akrabisasi dengan warga belajar, tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

2) Menyiapkan alat, sumber dan perlengkapan belajar

Tutor sebelum memulai pembelajaran membawa beberapa peralatan yang perlu dibawa, kecuali yang sudah disediakan oleh penyelenggara. Peralatan yang biasa dibawa tutor seperti, pedoman tutor pembelajaran jarak jauh, modul, alat tulis, penggaris dll.

3) Waktu yang disediakan untuk kegiatan belajar mengajar

Tutor memaksimalkan kegiatan pembelajarannya sesuai dengan target perencanaan, yaitu sekitar 1 – 2 jam pelajaran, disesuaikan dengan jadwal ON AIR dengan materi yang akan disampaikan.

4) Bantuan tutor terhadap WB yang mengalami kesulitan

Tutor memberikan bantuan kepada warga belajar yang mengalami kesulitan, baik bantuan secara individu maupun kelompok.

5) Melaksanakan penilaian proses

Tutor melaksanakan penilaian (formatif) disesuaikan dengan kemampuan warga belajar, tidak dipaksakan tetapi diberi bimbingan kepada warga belajar agar mengerti.

6) Menguasai bahan pelajaran

Tutor menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikan, karena sebelum menuju lokasi pembelajaran tutor telah menyiapkan beberapa materi yang akan disampaikan dengan buku catatannya.

7) Terampil berkomunikasi dengan WB

Komunikasi yang dilakukan tutor dengan Warga Belajar dapat dilihat dari proses pembelajarannya yang bersifat "serius tapi santai".

8) Menguasai “studio radio” sehingga dapat mengendalikan WB

Tutor mampu menguasai “iklm belajar”, dimana tutor mampu memberikan berbagai materinya dengan baik tetapi warga belajar tidak merasa jenuh dengan materi tersebut. Artinya selama pelajaran kurang lebih 2 jam, diselingi dengan musik, iklan komersil,dll .

9) Terampil mengajukan pertanyaan, baik lisan maupun tulisan (modul)

Tutor memberikan pertanyaan-pertanyaan disesuaikan dengan materi/bidang studi yang dikaji, baik itu dengan memberikan kata kunci ataupun memberikan pertanyaan secara langsung.

b. Metode Pembelajaran pada “Model” Perluasan Akses

Langkah-langkah yang jelas pada metode, memudahkan tutor untuk melaksanakan proses pembelajaran, serta membentuk keaktifan warga belajar menjadi lebih berani dan mandiri serta melatih warga belajar dalam berkomunikasi. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan warga belajar untuk mengeluarkan pendapatnya, serta aktif pada penugasan-penugasan baik yang dilaksanakan secara individu maupun kelompok. Metode pembelajaran merupakan langkah operasional dari strategi pembelajaran yang dilakukan.

Seperti yang dinyatakan oleh Abdulhak (2000:51) sebagai berikut "Dalam kegiatan pembelajaran, metode pembelajaran dapat diartikan dengan prosedur yang teratur dan sistematis untuk membelajarkan orang dewasa dalam mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan".

Adapun beberapa metode pembelajaran yang dipergunakan dalam “model” pembelajaran ini, yaitu :

1) Metode pembelajaran berdasarkan pemberian informasi antara lain sebagai berikut:

a) Tanya jawab

Metode ini digunakan pada proses pembelajaran ini, dilaksanakan secara ON AIR di radio, melalui interaksi Phone, SMS, Email, Yahoo. Massenger, Face Book, yang dijawab secara langsung oleh tutor atau nara sumber yang ahli dibidangnya. Dengan metode ini diperoleh kejelasan secara intensif melalui tanya jawab antara tutor dengan warga belajar. Sebelum melakukan metode tanya jawab, tutor memberikan materi secara keseluruhan kepada warga belajar yang selanjutnya kesempatan untuk tanya jawab satu sama lain dapat berlangsung.

Langkah – langkah pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

Kegiatan yang dilakukan tutor:

(1) Memberikan kesempatan kepada warga belajar untuk mencari informasi sendiri tentang topik yang sedang dibahas.

(2) Mengajukan pertanyaan kepada warga belajar

(3) Menjawab pertanyaan yang diajukan warga belajar

(4) Merangkum dan menyimpulkan hasil tanya jawab

(5) Memberikan masukan serta manfaat informasi yang diperoleh (refleksi)

Kegiatan yang dilakukan warga belajar:

(1) Mempelajari topik yang dibahas atau yang sudah ditugaskan

(2) Menjawab pertanyaan yang diajukan tutor

(3) Mengajukan pertanyaan kepada tutor

(4) Memberikan masukan serta manfaat informasi yang diperoleh (refleksi)

2) Metode Pemecahan Masalah:

a) Diskusi Kelompok Kecil

Berlangsungnya diskusi kelompok kecil ini dilakukan pada pemecahan masalah yang berkaitan dengan bidang studi tertentu. Sebagai contoh misalnya warga belajar diberikan gambaran kasus oleh tutor berkaitan dengan bidang studi tertentu, yang memerlukan jawaban/solusi kelompok. Kegiatan ini dapat dilakukan ketika ON AIR ataupun pada saat pertemuan kelas (tatap muka) yang selanjutnya diberikan beberapa kasus, yang ditindaklanjuti ketika ON AIR.

Langkah – langkah pelaksanaanya adalah sebagai berikut :

Kegiatan yang dilakukan oleh tutor :

(1) Membantu memecahkan permasalahan topik atau materi yang dipelajari

(2) Memecahkan kelompok besar ke dalam kelompok-kelompok kecil 3 orang

(3) Meminta saran pada topik atau materi yang dianggap sulit, serta memperjelas dan menjawab permasalahan tersebut.

(4) Meminta saran pendapat dari perwakilan tiap kelompok kecil

(5) Merangkum pendapat – pendapat dan menyimpulkannya

(6) Mereflesikan pengalaman belajar diskusi tersebut.

Kegiatan yang dilakukan warga belajar :

(1) Berdiskusi pada kelompok yang sudah ditentukan

(2) Berfikir bersama-sama untuk memecahkan masalah yang ditugaskan

(3) Menghubungkan permasalahan tersebut dengan pengalaman – pengalaman materi terdahulu

(4) Mengidentifikasi gagasan-gagasan yang dianggap baru

(5) Menyumbangkan informasi secara langsung kepada khalayak

(6) Mereflesikan kegiatan diskusi yang telah dilakukan

b) Brainstroming

Pada metode ini warga belajar diminta untuk mengeluarkan pendapatnya terhadap objek permasalahan yang ada, disesuaikan dengan tema atau pembasan yang ada secara ON AIR.

Langkah – langkah pelaksanaanya adalah sebagai berikut:

Kegiatan yang dilakukan tutor :

(1) Tutor mempersiapkan permasalahan yang biasa muncul (materi yang dianggap sulit oleh warga belajar)

(2) Tutor mengatur berjalannya kegiatan pembelajaran

(3) Memberikan kesempatan kepada warga belajar untuk memberikan pendapatnya secara langsung.

(4) Mencatat seluruh pendapat warga belajar dan menyimpulkannya

3) Metode pembelajaran berdasarkan penugasan:

a) Penugasan

Pada tahapan ini warga belajar (individu) diberikan tugas oleh tutor baik secara lisan maupun tulisan berkaitan dengan proses pembelajaran yang telah dilakukan. Penugasan tersebut didasarkan pada bentuk materi pada bidang studi yang telah disampaikan oleh tutor, yang kemudian tutor memberikannya kedalam bentuk penugasan-penugasan.

Langkah – langkahnya adalah sebagai berikut :

(1) Merumuskan tujuan khusus pada tugas yang akan diberikan

(2) Merumuskan tugas – tugas dengan jelas dan mudah dimengerti

(3) Menjelaskan teknis penyelesaian tugas

(4) Menilai hasil yang diselesaikan warga belajar

b) Metode Kelompok Kerja (Workshop)

Metode kelompok kerja ini dibentuk berdasarkan pada kelompok besar yang ada, kemudian dibagi menjadi sub-sub kelompok untuk mengerjakan tugas di luar pembelajaran kelas (tatap muka). Hal ini ditujukan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan sekiranya penting untuk dipecahkan bersama-sama. Ataupun ketika tutor tidak sempat hadir (dikelas), dapat dengan mudah memberikan materinya pada saat ON AIR kepada warga belajar diluar kelas. .

Langkah – langkah pelaksanaanya adalah sebagai berikut :

(1) Mempersiapkan tugas yang akan diberikan oleh tutor kepada warga belajar

(2) Membagi peserta menjadi beberapa kelompok

(3) Menjelaskan tugas dan tujuan dari penugasan

(4) Menilai proses dan hasil kegiatan pembelajaran

c. Teknis Pembelajaran Melalui Pemanfaatan Radio

1) Perumusan Alat Pengukuran Keberhasilan

Alat pengukuran harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan pokok-pokok materi pembelajaran yang akan disajikan kepada siswa. Hal yang diukur atau dievaluasikan ialah kemampuan, keterampilan atau sikap siswa yang dinyatakan dalam tujuan yang diharapkan dapat dimiliki siswa sebagai hasil instruksional itu.

Sebaiknya setiap kemampuan dan keterampilan yang mendukung tercapainya tujuan instruksional khusus dijadikan bahan tes, atau daftar cek perilaku (performance check list).

Tujuan instruksional harus cukup, artinya semua aspek yang ada dalam ruang lingkup tujuan instruksional umum harus mempunyai tujuan khusus. Materi instruksional harus cukup, artinya semua kemampuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mencapai semua tujuan instruksional khusus harus terjabarkan di dalam materi instruksional. Tes yang cukup, artinya semua kemampuan dan keterampilan yang terangkum dalam tujuan instruksional khusus dan dalam materi instruksional seyogyanya ada alat pengukuran.

2) Penulisan Naskah Audio

Media audio adalah media yang hanya mengandalkan bunyi dan suara untuk menyampaikan informasi dan pesan. Program audio dapat menjadi indah dan menarik karena program ini dapat menimbulkan daya fantasi para penderngarnya.

Berikut ini beberapa petunjuk yang perlu kita ikuti bila kita menulis naskah program media audio.

a) Bahasa

Bahasa yang digunakan dalam media audio adalah bahan percakapan, bukan

bahasa tulis. Kalimat-kalimat yang digunakan sedapat mungkin kalimat tunggal. Gunakan kalimat-kalimat yang pendek. Sedapat mungkin kita harus menghindarkan istilah-istilah sulit. Bila terpaksa menggunakan istilah yang sulit, istilah itu perlu diberi penjelasan. Peserta didik mendengar kata yang tidak diketahui artinya cenderung untuk memikirkan terus arti istilah tersebut, akibatnya ia kehilangan konsentrasi dalam mendengarkan. Sering kali kita dianjurkan untuk menggunakan bahasa yang sesuai bahasa sehari-hari pendengar kita. Bahasa seperti ini mungkin akan menarik karena mudah ditangkap.

b) Musik dalam program audio

Fungsi musik yang utama dalam hal ini ialah menciptakan suasana. Karena itu, musik perlu dipilih hati-hati. Music tema dapat digunakan sebagai musik pengenal studio, music pengenal program, atau musik pengenal tokoh dalam suatu cerita bersambung. Music pengenal program digunakan pada awal dan pada akhir suatu program. Dengan demikian, setiap kali kita mendengar music itu kita akan mengetahui bahwa program itu sudah dimulai atau sudah diakhiri.

c) Keterbatasan daya konsentrasi

Berdasarkan penelitian yang pernah diadakan, daya konsentrasi orang dewasa untuk mendengarkan berkisar antara 25 s/d 45 menit, sedangkan pada anak-anak hanya 15 s/d 25 menit.

Karena terbatasnya daya ingatan pendengar sebaiknya suatu pengertian tidak hanya disajikan atau dibicarakan sekali saja, tetapi perlu diberikan secara berulang. Bila satu pengertian diberikan berulang kali dengan cara yang berbeda dan bervariasi, pengertian itu akan lebih meresap.


Abdulhak , I. (1996). Strategi Membangun Motivasi Dalam Pembelajaran Orang Dewasa. Bandung : AGTA Manunggal Utama

Abdulhak.I.(2000). Metode Pembelajaran pada Orang Dewasa. Bandung : Cipta Intelektual

Ardianto,E. (2004). Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media

Depdiknas Direjen PLSP, (2004), Standar Prosedur Oprasional Penyelenggaraan Paket A, Paket B, dan Paket C. Jakarta, Depdiknas

Depdiknas Direjen PLSP, (2004), Acuan Pelatihan Tutor. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas Direjen PLSP, (2004), Seri Pedoman Program Pendidikan Kesetaraan. Jakarta: Depdiknas

Depdiknas Direjen PLSP, (2004), Evaluasi Paket C. Jakarta: Depdiknas

Depdiknas Direjen PLSP, (2004), Pedoman Pengadaan Tutor. Jakarta: Depdiknas

Depdiknas BPPLSP Reg.II (2007). Strategi Pengelolaan Keberlangsungan Pembelajaran Paket A. Bandung: Depdiknas BP-PLSP Reg.II Jayagiri Lembang

Dharma, A (1998). Perencanaan Pelatihan. Jakarta Pegawai Depdikbud

Kusnadi, (2005), Pendidikan Keaksaraan, Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Dirjen PLS

Mappa, S. dan Basleman, A. (1994). Teori Belajar Orang Dewasa. Jakarta: Depdiknas

Mulyana, D. (2008). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Purwanto dan Atwi S, (1999) Evaluasi Program Diklat Jakarta: STIALAN

Sadiman, dkk. (2009). Media Pendidikan.Jakarta: Raja Grafindo Persada

Sirodjuddin, K., (2006). Perencanaan Pembelajaran. Jurusan Pendidikan Luar Sekolah FIP UPI

Sudjana. D. (2000). Pendidikan Luar Sekolah Wawasan Sejarah Perkembangan Falsafah Teori Pendukung Asas. Bandung: Falah production

Sudjana.D. (2000). Manajemen Program Pendidikan untuk Pendidikan Luar Sekolah dan Pengembangan Sumberdaya Manusia.. Bandung: Falah production

Sudjana.D. 2001). Metode & Teknik Pembelajaran Partisipatif. Bandung Falah Production

Surakhmad, W. (1998). Pengantar Penelitian Ilmiah. Dasar Metoda dan Teknik. Bandung: Tarsito

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003. Jakarta : Depdiknas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini